SAY NO TO CIGARATTE

Image

Gue lupa kapan tepatnya gue berhenti merokok.Padahal awalnya susah banget ngelepasin kebiasaan yang menurut gue bisa menghilangkan segala kegalaun, kerisauan dan kegelisahan dalam hati dan pikiran (dangdut amat).

Anyway, awal ‘perjumpaan’ gue dengan batang rokok itu tepatnya saat gue masih di SD. Biasa, namanya juga anak-anak, gue, kakak dan sepupu iseng-iseng mencoba sesuatu, yang kalau kita observe dari lingkungan, sesuatu selalu diperdebatkan. Gimana tidak sering diperdebatkan, ayah yang perokok selalu saja bikin ibu yang paling anti asap rokok marah-marah. Sudah seringkali ibu mengingatkan ayah..” nanti kalau sakit jantung baru deh ngerasain….” atau “lihat tuh giginya, sudah hitam-hitam semua, mana mulut bau lagi”. Coba tebak Ayah komentar apa? “coba deh kamu sekali-sekali menghisap, tidak ada sesuatu yang bisa mengalahkan nikmatnya merokok”. Hihihi,kadang-kadang lucu juga sih denger komentar Ayah itu, alhasil Ibu malah menjadi ngambek, Ayah ? tetap saja dengan santai menghisap batang rokok itu.

Dari hasil coba-coba waktu SD itu, gue iseng lagi coba-coba waktu SMP, herannya, dari pertama kali nyoba sampai saat SMP, kok gue gak pernah batuk ya?! Cuma merasa ada rasa yang belum pernah gue rasakan selama hidup gue, pertamakalinya dihisap, ada rasa manis-manis di ujung bibir, dan setelah api disulutkan di ujung batang rokok, dan mulai menghisap rasa yang agak pahit-pahit bercampur dengan manis itu jadi seperti agak gurih.

Parahnya walaupun usia semakin tua dan seharusnya lebih tahu mengenal baik dan buruk, tapi kebiasaan rokok ini malah menjadi semakin menjadi-jadi. Perasaan dalam diri gue merasa nyaman kalau gue menghisap rokok itu, kalau gue ada di suatu tempat dan gue merasa asing atau kikuk, dengan gue menghisap rokok gue jadi merasa lebih PD. Terlebih saat putus cinta kala hati biru, rokok sudah dianggap obat paling mujarab.

Masuk SMA, ehm….ternyata teman-teman gue belum bisa nerima temen ceweknya merokok, sempat kesal juga kalau mereka bilang, cewek perokok itu identik dengan cewek nakal. Ya..kalau cuma omongan seperti itu sih tidak ada pengaruhnya buat gue. Toh mereka juga tahu kan kalau gue bukan cewek nakal.

Masuk kuliah semakin parah, tinggal di kost berarti kebebasan menjadi semakin punya ruang. Kamar jadi full asap rokok dan yang menyenangkan ada teman wanita yang mau ‘berbagi’ untuk menghabiskan saat-saat merokok. Orangtua gue tahu enggak sih? Enaknya jadi gue adalah karena tampang gue ini seperti anak baik-baik, tidak pernah kelihatan suka melakukan hal-hal aneh, jadi walaupun ketahuan oleh Ayah, beliau hanya bilang bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan. Udah, that’s it, lah wong dulunya dia perokok.

Waktu kerja, dan masuk ke lingkungan baru, gue mulai menjaga sikap. Urusan rokok merokok gue rem, kalau keinginan itu datang, ya satu-satunya cuma kalau gue di toilet aja, itu juga harus liat-liat ada orang lain atau enggak. Gue sendiri heran, kenapa gue jadi agak JAIM ya?! Nah, saat ini, gara-gara susah cari tempat untuk merokok, gue kurangi kebiasaan merokok, dari yang cuma di toilet aja, sampe akhirnya tidak pernah beli rokok dan terakhir berhenti….tapi ternyata hal itu cuma bertahan 6 bulan, setelah kenal ada teman (cewek) yang perokok, kebiasaan itu kambuh lagi, tanpa lihat situasi dan kondisi, ya kalau mau merokok ya merokok, tambah parah.

Lama kelamaan setelah masuk fase ‘iya dan tidak’, ‘bisa atau enggak’, ‘kuat atau enggak’, gue memutuskan untuk berhenti lagi. Ternyata hanya bertahan 6 bulan lagi. Sekarang ini, ke-3 kalinya gue memutuskan berhenti dan mudah-mudahan ini yang terakhir karena alasan sekarang lebih masuk akal.

Jadi, menurut gue dengan alasan apapun jangan pernah mendekati hal-hal yang tidak baik, walaupun hanya mencoba karena sama sekali tidak ada keuntungannya. Lihat di gambar berikut ini, apa saja sih kandungan dari rokok itu?

rokok2